Kecap Manis : Akulturasi Budaya Masyarakat Jawa dan Tionghoa

oleh -259 Dilihat

SURABAYA (PMTSnews.com) – Kecap sudah jadi bagian tak terpisahkan dari khazanah kuliner Nusantara. Saking populernya kecap hingga memunculkan idiom : Tidak ada kecap nomor dua. Yang ada nomor satu.

Tapi tahukah Anda, kecap bukanlah budaya asli orang Indonesia. Lalu darimanakah kecap berasal?

Kecap merupakan sebuah bentuk akulturasi budaya antara masyarakat Jawa dengan masyarakat Tionghoa. Pada mulanya, para pelancong Negeri Tirai Bambu tersebut datang ke Indonesia membawa berbagai barang yang akan ditukar dengan berbagai hasil bumi dan olahan khas Indonesia. Salah satu barang yang dibawa dalam ekspedisi tersebut adalah kecap asin (soy sauce).

Namun ternyata, kultur budaya masyarakat Jawa, sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal ekspedisi Tionghoa tersebut tidak terlalu menyukai kecap asin. Singkat cerita, masyarakat Tionghoa akhirnya menambahkan gula yang berasal dari kelapa ke dalam kecap sehingga kecap asin berubah menjadi kecap manis. Dari sinilah lahir kecap manis yang disesuaikan dengan penganan khas masyarakat Jawa yang memiliki ciri khas cita rasa manis.

Sampai kemudian pada 1882 dibangunlah pabrik kecap pertama di Indonesia. Tepatnya berada di Pasar Lama, Tangerang. Pabrik ini dikelola oleh Teng Hang Soey. Hingga kini, pabrik kecap tertua di Indonesia itu masih beroperasi. Mereknya pun berubah dari Teng Giok Seng menjadi Kecap Cap Istana.

Kecap Cap Istana adalah merek kecap tertua di Indonesia. Setelahnya baru ditempati oleh Kecap Cap Orang Jual Sate yang didirikan oleh Ong Tjin Boen di Probolinggo, Jawa Timur, pada 1889.

Kecap Cap Jeruk Pecel, Kecap Legendaris di Surabaya

Kecap Jeruk Pecel merupakan salah satu pabrik yang memiliki sejarah panjang, pada awalnya hanya bergerak dibidang industri rumahan. Didirikan pada tahun 1937 oleh Hwang Kieng Hien, yang terletak di sisi timur Jembatan Merah yaitu, JL. Sidonipah II/3-5 Surabaya. Sebelumnya Hwan King Hien dan istrinya tidak mendirikan sebuah pabrik, mereka hanya mencoba membuat kecap untuk dinikmati sendiri. Namun, demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, akhirnya mencoba berjualan ke tetangga sekitar rumah.

Pabrik ini sendiri sudah dikelola 3 generasi, generasi kedua dikelola oleh anaknya dan generasi ke tiga dikelola oleh cucunya. Pabrik ini sendiri merupakan salah satu industri rumahan yang didirikan pada masa krisis ekonomi yang terjadi di Surabaya. Kehadiran pabrik ini sebagai pabrik rumahan telah sedikit memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah ini dan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.

Pada saat awal berdirinya pabrik ini, hanya memproduksi lima hingga sepuluh botol perhari, yang kemudian dijualkan dengan berkeliling ke tetangga sekitar rumah. Kemudian pada masa generasi kedua produksi pabrik kecap bertambah sekitar puluhan hingga ratusann botol perhari, dan pada generasi ketiga, jumlah produksi bertambah menjadi ratusan hingga ribuan botol perhari dan pertahunnya pabrik ini memperoduksi sekitar 172.000 liter kecap manis..

Proses produksi Kecap Jeruk Pecel menggunakan tenaga menusia dan alat tradisional, seiring bertambahnya tahun dan pabrik ini semakin maju dan berkembang di kalangan masyarakat Surabaya maupun luar Kota Surabaya, membuat pabrik ini menggunakan beberapa mesin untuk memudahkan para pekerja.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kecap masih tetap sama, demi mempertahankan resep turun-temurun dari generasi pertama, yaitu menggunakan bahan rempah-rempah, kedelai hitam, gula merah dan garam. (berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.